Chaidarabdullah’s Weblog

LEWAT TANGAN SULTAN QABOOS, OMAN MENGGAPAI KEMAJUAN

Posted on: Mei 8, 2008

        Oleh Chaidar Abdullah

        Jakarta, 31/10 (ANTARA) – Meskipun belum pupus anggapan bahwa tugas kaum wanita adalah merawat anak di rumah, kesempatan bagi kaum wanita di Oman sekarang terbuka tak kalah lebar dibandingkan dengan yang dimiliki kaum prianya.

        Kaum wanita Oman kini mulai memainkan peran penting di berbagai profesi seperti pemerintahan selain tugas mereka dalam rumah tangga.

        “Pemerintah Oman juga tidak mengekang kaum wanita untuk bekerja dan berkarya sama seperti kaum pria,” kata Nyonya Houda Al Ghazali, penasihat Kementerian Tenaga Kerja dan Urusan Sosial Oman.

        Kementerian itu merupakan salah satu yang didirikan awal dasawarsa 1970-an, setelah Sultan Qaboos bin Said naik tahta. Tugas utama kementerian itu ialah mengurus kesejahteraan masyarakat dan pembangunan individu serta keluarga.

        “Sultan Oman, Qaboos bin Said, memberikan kesempatan yang sama bagi kaum wanita di berbagai bidang, baik kesempatan untuk memperoleh pendidikan maupun bekerja, dengan mendapat gaji dan tunjangan yang sama. Pokoknya persamaan di segala bidang,” katanya.

        Di negara kesultanan tersebut, kata ibu muda yang pernah menimba ilmu di Inggris itu, kemampuan dan keterampilan kaum wanita dalam melaksanakan pekerjaan pun tidak dianggap lebih rendah dibandingkan dengan kaum pria.

        Meskipun begitu, ibu tiga anak tersebut mengakui, terdapat perbedaan antara kaum wanita dan pria, tetapi perbedaan tersebut terletak pada kemampuan fisik dan bukan dalam kemampuan intelijensia.

        Sekarang, kaum wanita Oman dapat mengembangkan kemampuan mereka, tidak seperti sebelum tahun 1970. Saat itu, tak ada sekolah bagi wanita dan hanya ada dua sekolah bagi pria.

        “Sekarang, terdapat sekolah yang sama banyak antara sekolah buat pria dan wanita di negeri ini,” kata penasihat kementerian yang menamatkan pendidikan tingkat Sekolah Menengah di Kuwait tersebut.

        Tetapi dalam bidang pekerjaan, Nyonya Al Ghazali mengakui bahwa kaum pria Oman masih memiliki kesempatan yang lebih luas dibandingkan dengan kaum wanita.

        “Sebenarnya itu terjadi bukan karena kaum wanita dihalangi mengembangkan diri, tetapi karena sebagian kaum wanita tak ingin bekerja dan sebagian lagi lebih suka menjadi ibu rumah tangga,” tambahnya.

        Akibatnya, kata Nyonya Al Ghazali, tentu saja lebih banyak pria yang bekerja dibandingkan dengan wanita.

        Masalah lain yang masih mengganjal kaum wanita Oman ialah tak sedikit pria di negeri yang merayakan ulang tahunnya tanggal 18 November tersebut menganggap tugas wanita adalah merawat dan mendidik anak di rumah.

        Tak mengecewakan

        Namun, prestasi yang telah dicapai oleh wanita Oman dalam pekerjaan mereka juga tidak mengecewakan, kata Nyonya Al Ghazali lagi. “Kaum wanita sekarang sudah ada yang menjadi sekretaris jenderal, manajer, dan juga ada yang menduduki jabatan wakil menteri.”

        Di negara yang baru 23 tahun membangun itu, prestasi kaum wanita saat ini sungguh menggembirakan, kata wanita yang pernah belajar di Oxford University itu.

        Kesultanan Oman baru mulai melancarkan pembangunan setelah Sultan Qaboos bin Said menggantikan ayahnya, Said bin Taimur tahun 1970.

        Sultan Said bin Taimur wafat tahun 1972. Sultan Qaboos bin Said adalah generasi kedelapan dalam Dinasti Al-Busaid — yang mulai berkuasa di Oman tahun 1744 dengan Imam Ahmad bin Said sebagai cikal-bakalnya.

        “Saya sangat senang bahwa kini kaum wanita memperoleh perlakuan yang sama dengan kaum pria,” katanya.

        Kini masyarakat, katanya, tidak dapat menolak keadaan bahwa wanita harus bekerja, selain menunaikan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dan mengurus anak.

        “Pembangunan membutuhkan wanita dan wanita membutuhkan pekerjaan,” tambahnya.

        Dia menyatakan, di kementeriannya saja, terdapat 30 pegawai wanita.

        Pemerintah Oman, katanya, juga memberikan perhatian besar pada wanita yang bekerja; mereka yang memiliki bayi diberi waktu istirahat satu jam untuk menyusui anak mereka.

        “Apa arti waktu satu jam?” katanya mempertanyakan. “Waktu satu jam bisa terbuang percuma sekalipun orang tetap berada di kantor. Waktu tersebut dapat terbuang karena dipakai ngobrol atau telefon.”

        Kaum wanita juga diberi kesempatan cuti dua tahun di luar tanggungan; mereka yang suaminya mendapat tugas di luar negeri diberi waktu cuti empat tahun di luar tanggungan; dan mereka akan diterima bekerja kembali setelah masa cuti usai.

        “Mereka dapat diterima kembali ke posisi sebelumnya atau diberi posisi baru, tergantung pada keadaan dan kebutuhan,” katanya.

        Belum waktunya

        Pemerintah Oman memang tidak menyepelekan peran penting kaum wanita dalam proses pembangunan negeri tersebut, tetapi sampai di mana peran yang diberikannya dalam Majlis Asy-Syura?

        “Memang belum ada wanita yang duduk dalam Majlis Asy-Syura, tetapi itu bukan berarti wanita tidak diizinkan duduk di dewan tersebut,” kata Nyonya Al Ghazali.

        Majlis Asy-Syura adalah pengganti Dewan Konsultasi Negara yang terdiri atas 35 anggota dan didirikan setelah pidato hari ulang tahun Oman tahun 1990 Sultan Qaboos. Majlis Asy-Syura memiliki 55 anggota, yang merupakan wakil dari berbagai wilayah negeri itu.

        Di antara tugas utama Majlis Asy-Syura ialah mengaji rancangan peraturan ekonomi dan sosial, yang dipersiapkan oleh semua kementerian, sebelum diberlakukan.

        Majlis tersebut juga terlibat dalam penetapan dan pelaksanaan rencana pembangunan. Tetapi, sampai sekarang belum ada wanita yang menjadi anggota dewan itu.

        Nyonya Al Ghazali berpendapat tak adanya wanita dalam Majlis Asy-Syura bukan berarti terdapat pelarangan, tetapi karena majlis itu baru didirikan.

        “Tentu saja sekarang belum ada wanita di Majlis Asy-Syura, karena usia badan tersebut belum genap tiga tahun. Tetapi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi 20 tahun lagi?” katanya.

        Ia yakin, pada suatu saat nanti, akan tampil wanita sebagai anggota majlis tersebut.

        “Dulu, dua puluh tahun lalu, belum ada sekolah buat wanita Oman, apalagi wanita yang bekerja, tetapi sekarang sudah banyak wanita tampil di berbagai bidang pekerjaan di negeri ini,” katanya.

        “Jadi, pada suatu saat nanti, tidak tertutup kemungkinan akan ada wanita yang duduk di Majlis Asy-Syura,” katanya dengan nada suara keras dan tegas. (31/10/93 16:07)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: