Chaidarabdullah’s Weblog

HARAPAN BERDIRINYA SERBIA RAYA KIAN JAUH DARI JANGKAUAN

Posted on: Mei 10, 2008

        Oleh Chaidar Abdullah

        Jakarta, 17/9 (ANTARA) – Harapan orang Serbia di bekas Yugoslavia untuk mendirikan “Republik Serbia Raya” tampak kian jauh dari jangkauan mereka, sementara gempuran NATO dan pasukan gerak cepat PBB membuat mereka tak berkutik, dan aliansi Muslim-Kroasia Bosnia pekan kedua September semakin mendesak etnik pembangkang itu.

        Kekuatan gabungan Kroasia-Muslim Bosnia merebut lagi dua kota yang dikuasai Serbia –Kulen-Vakuf dan Bosanski Petrovac– dalam gelombang serangan yang berhasil membuka jalur menuju daerah kantung muslim yang tadinya dikuasai Serbia Bosnia, Bihac.

        Seorang pejabat PBB yang dikutip kantor berita AFP menyatakan Serbia Bosnia kehilangan tak kurang dari 15 persen wilayah, walaupun ada spekulasi bahwa perlawanan minim yang dilancarkan etnik itu merupakan bagian dari rencana pemimpin Serbia Bosnia untuk melepaskan wilayah sebelum pembicaraan perdamaian.

        Namun akhir pekan kedua September, pemimpin Serbia Bosnia, Radovan Karadzic, dilaporkan “berteriak-teriak” meminta semua orang Serbia membantunya membendung arus serangan Muslim-Kroasia Bosnia.

        Serangan itu dilancarkan pada saat Serbia Bosnia setuju menghentikan pengepungan atas ibukota Bosnia- Herzegovina, Sarajevo, dan menarik senjata beratnya dari sekitar kota tersebut sebagai imbalan bagi dihentikannya serangan udara NATO.

        NATO telah memberi waktu kepada Serbia Bosnia sampai Ahad (17/9) pukul 20:00 GMT untuk menarik senjata beratnya dari sekitar Sarajevo, bukti bahwa Serbia Bosnia mematuhi persetujuannya.

        Tekanan NATO agar Serbia Bosnia mematuhi ultimatumnya dan gempuran dua sisi militer Republik Kroasia serta kekuatan gabungan Muslim-Kroasia Bosnia membuat posisi Serbia Bosnia semakin terjepit.

        Serangan paling akhir aliansi Barat tersebut dicetuskan oleh serangan mortir terhadap suatu pasar di Sarajevo yang menewaskan 37 orang akhir Agustus lalu. Menurut PBB, serangan itu berasal dari daerah yang dikuasai Serbia Bosnia, meskipun etnik pembangkang tersebut membantah telah melancarkan serangan.

        Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan kepada AFP bahwa alasan bagi berdirinya Serbia Raya usai sudah, dan takkan pernah ada penyelesaian militer konflik di Balkan. Pendapat kedua ini sudah sering diucapkan oleh banyak pemimpin dunia.

        Sementara itu Reuter melaporkan, seorang pejabat lain AS berpendapat orang-orang Serbia Bosnia harus sadar bahwa arus pertempuran berbalik menggempur mereka, meskipun Karadzic seringkali menggembar-gemborkan rakyatnya akan memberi dukungan kuat dan “akhirnya kami akan menang”.

        Mladic salah hitung

        Kenyataan pahit Serbia Bosnia berpusat pada salah perhitungan komandan pasukan Jenderal Ratko Mladic setelah jatuhnya dua “daerah aman” PBB, Zepa dan Srebrenica, musim panas tahun ini.

        Mladic membuat pasukannya berada dalam incaran NATO karena aksi brutal yang dilakukannya dengan membangkang terhadap peringatan PBB, yang sedang berusaha mengangkat kembali kredibilitasnya setelah berkali-kali mengalami kegagalan dalam upaya pemulihan perdamaian di dunia.

        Dengan izin PBB, NATO sepakat untuk memperluas definisi mengenai kondisi yang dapat mencetuskan serangan udara, termasuk pemusatan kekuatan yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan guna memperluas tindakannya.

        NATO membujuk Sekretaris Jenderal PBB Boutros Boutors- Ghali agar menyetujui perubahan sangat penting –pemberian wewenang dari sayap sipil kepada sayap militer.

        NATO –yang hanya dapat beroperasi atas izin PBB– sebelumnya mencela birokrasi di PBB sebagai pangkal kegagalan untuk memberi reaksi cepat atas pembangkangan Serbia.

        Pada saat yang sama, Inggris dan Perancis serta negara lain penyumbang tentara bagi Pasukan Perlindungan PBB (UNPROFOR) menarik pasukan mereka dari tempat-tempat yang memungkinkan Serbia Bosnia menyandera tentara PBB, seperti yang terjadi dalam beberapa serangan NATO terdahulu.

        Keadaan itu memungkinkan NATO bergerak lebih leluasa dalam menyerang sasaran-sasaran militer Serbia Bosnia.

        Selain itu timbul pula keadaan yang membuat Serbia Bosnia semakin limbung.

        Mula-mula militer Republik Kroasia mendongkel pemberontak Serbia Kroasia di Krajina, dan impian orang Serbia di wilayah itu untuk mendirikan Serbia Raya bertambah suram.

        Kematian tiga diplomat AS dalam kecelakan lalulintas di Gunung Igman, BosniaHerzegovina, menambah kuat tekad Presiden AS Bill Clinton untuk mengupayakan perdamaian di wilayah Balkan.

        Serangan mortir terhadap Sarajevo membuka kesempatan bagi NATO untuk menyerang posisi-posisi senjata Serbia Bosnia, sementara tekanan aliansi Muslim-Kroasia Bosnia juga bertambah kuat.

        Akibat semakin beratnya tekanan, Mladic mau tidak mau terpaksa menelan kenyataan bahwa anak buahnya telah kocar- kacir, padahal Republik Serbia –yang sejak meletusnya perang Bosnia mendukung pasukan Serbia Bosnia– tak dapat terus memberi dukungan.

        Beograd juga tak lepas dari himpitan embargo ekonomi internasional, dan kini sedang berusaha melunakkan tekanan itu.

        Tekanan demi tekanan tampaknya membuat orang-orang Serbia di Balkan tak bisa mengelak dari kenyataan, konflik itu harus diselesaikan secara damai, dan tanpa kekuatan mereka tak dapat menguasai wilayah guna mewujudkan impian berdirinya “Republik Serbia Raya”. (17/09/95 13:50)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: