Chaidarabdullah’s Weblog

PERTEMPURAN SAMBUT PERINGATAN KE-IV PENYATUAN YAMAN

Posted on: Mei 10, 2008

        Oleh Chaidar Abdullah

        Jakarta, 20/5 (ANTARA) – Perang saudara yang telah berkecamuk lebih dari dua pekan dan semakin sengit, dan di sisi lain terjadi perebutan daerah penghasil minyak di Yaman Selatan, seakan menyambut perayaan empat tahun penyatuan negeri itu.

        Pertempuran meletus awal bulan Mei, dan terus berkecamuk tanpa terlihat tanda pihak mana yang akan menang, sekalipun Yaman Utara berkali-kali menyatakan bahwa pihaknya berhasil mendesak pasukan Yaman Selatan.

        Sampai saat ini tak ada keterangan resmi mengenai korban jiwa di kedua belah pihak.

        Yaman Utara menyatakan pasukannya telah menduduki pangkalan militer strategis Al-Anad, 60 kilometer sebelah selatan Aden, tapi Aden membantah laporan itu.

        Yaman Utara juga telah berulang-kali menyatakan pasukannya hampir merebut Aden, sementara para pemimpin politik Utara menyatakan serangan terhadap Selatan bukan bertujuan menduduki Aden tapi untuk memblokade kota pelabuhan Yaman Selatan tersebut.

        Bekas Yaman Selatan, yang beraliran Marxis, dan Yaman Utara, yang konservatif, bersatu tanggal 22 Mei 1990. Penyatuan mestinya diikuti dengan peleburan militer tapi kenyataannya militer kedua wilayah tersebut tak pernah bersatu.

        Akibat gempuran yang berlanjut militer Utara, para pemimpin Yaman Selatan pertengahan bulan Mei mempertimbangkan pemisahan diri kembali dari Yaman Utara.

        Pilihan tersebut, menurut laporan kantor-kantor berita Trans-Nasional, dipertimbangkan dalam pertemuan biro politik Partai Sosialis Yaman (YSP) pimpinan Wakil Presiden Ali Salem Al-Baidh dari Yaman Selatan.

        Seorang diplomat Eropa melaporkan Mesir dan Arab Saudi serta beberapa tetangga Arab Yaman telah dihubungi untuk dimintai pengakuannya.

        Rusia kemungkinan juga akan mengakui negara baru itu “setelah beberapa negara Arab mengakuinya” dan konsultasi dengan Amerika Serikat akan segera diadakan.

        Presiden Mesir Hosni Mubarak — yang khawatir pertempuran tersebut akan berkepanjangan — bahkan telah menyatakan perebutan bekas ibukota Yaman Selatan, Aden, akan dianggap sebagai pendudukan.

        Mesir dan negara-negara Arab lain serta Liga Arab telah beberapa kali berusaha menengahi sengketa Yaman Utara dan Selatan tapi belum menghasilkan apa-apa.

        Meskipun perang saudara tersebut membuat gusar tetangga-tetangga Yaman, terutama setelah Al-Baidh berkali-kali mengusulkan gencatan senjata tapi Presiden Ali Abdullah Saleh dari Utara menampiknya, pertempuran terus berlangsung dan menjurus kepada pertumpahan darah sia-sia tanpa akhir.

        Menurut Mubarak kedua pihak di Yaman — kubu Saleh dan Al-Baidh — tidak mempunyai pilihan selain menerima baik gencatan senjata.

        Perbedaan politik-budaya

        Perang saudara yang saat ini berkecamuk di negeri itu berakar dari perbedaan politik dan budaya tajam antara para pemimpin Yaman Selatan dan Utara, dan tak kunjung sirna saat penyatuan berlangsung tahun 1990.

        Penyatuan itu memang mengundang pujian sebagai tindakan berani oleh para pemimpin kedua wilayah tersebut.

        Akan tetapi, percekcokan politik yang mencuat lagi setelah penyatuan mengalahkan masalah lain seperti angka kemiskinan dan buta huruf.

        Yaman Utara, yang boleh dibilang lebih miskin dengan jumlah penduduk — selain bentrokan antar-suku — lebih banyak dibandingkan dengan Yaman Selatan, mulanya berharap akan dapat lebih berperan.

        Sementara itu, Yaman Selatan, bekas negara Arab satu-satunya yang beraliran Marxis, kelihatannya kehilangan pegangan ketika tidak lagi mendapat dukungan aktif dari Uni Sovyet, yang menghadapi masalah ekonomi dan akhirnya bubar. Sebelumnya Yaman Selatan mendapat dukungan dari Uni Sovyet.

        Para pemimpin Yaman Selatan juga berharap penyatuan dapat menyelamatkan ekonominya, yang guncang akibat bubarnya Uni Sovyet, karena penyatuan Yaman berlangsung saat ladang-ladang minyak pertama yang terletak di sebelah timur ibukota Yaman bersatu, Sanaa, mulai memberi hasil.

        Namun pemerintah di Selatan menghadapi kejutan dengan berkembangnya pengaruh aliran fanatik dari Utara, yang dipicu oleh gerakan Al-Islah pro-Arab Saudi.

        Dalam pemilihan umum langsung pertama untuk memilih anggota parlemen tahun 1993, Kongres Rakyat Umum (GSP) pimpinan Saleh meraih 121 kursi, Al-Islah 62 dan YSP hanya 56 kursi.

        Sejak saat itu, para pemimpin Yaman Selatan tak dapat mempertahankan posisi politik mereka dan tak mampu menembus dominasi politisi Yaman Utara — yang memiliki penduduk hampir 11 juta orang, sedangkan penduduk Yaman Selatan berjumlah kurang dari tiga juta.

        Untuk dapat memainkan peran lebih besar di negeri tersebut, Al-Baidh pertama-tama mengusulkan pembentukan sistem federal yang akan menghasilkan otonomi besar bagi wilayah Selatan. Usul Al-Baidh ialah dengan membentuk negara federal seperti Uni Emirat Arab, yang sampai kini mampu mempertahankan stabilitasnya.

        Keinginan Al-Baidh untuk memperoleh peran lebih besar semakin tergelitik dengan ditemukannya lahan minyak baru di wilayahnya.

        Al-Baidh juga mengusulkan agar Saleh menyetujui pembaharuan besar di bidang militer, ekonomi dan politik.

        Tetapi semua usul Al-Baidh bagaikan membentur karang dalam bentuk penolakan Saleh. Presiden Yaman tersebut bahkan menuding para pemimpin Yaman Selatan melakukan pemberontakan dan ingin mendirikan negara sendiri.

        Tak mudah

        Kini, empat tahun setelah penyatuan bukan penyelesaian yang terwujud tapi pasukan Yaman Utara, yang unggul dalam jumlah, melanjutkan gempuran terhadap Selatan guna memaksa para pemimpin wilayah itu dan saingan Saleh menyerah atau meninggalkan negeri tersebut.

        Meskipun demikian, keunggulan pasukan Saleh itu diperkirakan masih jauh dari kemenangan dalam perang apalagi dalam pertempuran.

        Saleh juga diperkirakan akan menghadapi perlawanan sengit kalau ia terus memaksakan kekerasan terhadap Yaman Selatan, dan kalaupun pasukan dapat mengalahkan pasukan Selatan bukan berarti pihak Saleh menang dalam pertempuran.

        Perkiraan seperti itu juga disampaikan oleh Asisten Menteri Luar Negeri AS Robert Pelletreau.

        Ia berpendapat tak ada penyelesaian militer bagi krisis di Yaman, dan setelah pertempuran tak kunjung usai para pemimpin negeri tersebut, terutama dari Utara, diduga baru akan menyadari bahwa tak mudah untuk meraih kemenangan. (20/05/94 09:26)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: