Chaidarabdullah’s Weblog

PEMILU CHECHNYA, KEKALAHAN BAGI KREMLIN?

Posted on: Agustus 20, 2008

 

       Oleh Chaidar Abdullah

        Jakarta, 28/1/97 (ANTARA) – Pada Senin (27/1) rakyat Chechnya

, yang telah melewati pertempuran sengit melawan tentara Rusia dalam upaya separatis mereka, memberi suara dalam pemilihan presiden dan parlemen –kejadian yang dipandang sebagian pihak sebagai kekalahan atas Kremlin.

        Meskipun republik Kaukasus itu pada 1991 memproklamasikan diri sebagai negara merdeka, sampai sekarang tak satu negara pun mengakuinya sehingga Chechnya tetap menjadi salah satu dari 21 republik berlandaskan etnik yang, bersama-sama dengan 68 wilayah Rusia, membentuk Federasi Rusia.

        Enam belas calon bersaing dalam memperebutkan jabatan presiden dengan masa jabatan lima tahun, saat sebanyak 400.000 penduduk, tidak termasuk pengungsi yang akan memberi suara di tempat pemungutan suara khusus atau orang-orang yang baru kembali ke republik tersebut, memberi suara.

        Para pemilih dilaporkan Reuter dan AFP memberi suara mereka di 423 tempat pemungutan suara dari pukul 07:00 sampai pukul 20:00 waktu setempat (11:00

sampai 24:00 WIB) Senin.

        Hasil awal diduga mulai diterima Komisi Pemilihan Sentral hari Selasa dan hasil akhir harus sudah disahkan serta disiarkan dalam waktu lima

hari setelah berakhirnya pemungutan suara.

        Komisi itu merencanakan membuka lebih dari satu lusin tempat pemungutan suara di perbatasan Chechnya dengan republik-republik tetangganya dalam Federasi Rusia, Ingushetia dan Dagestan, serta wilayah Stavropol –tempat kebanyakan pengungsi diduga berada.

        Sebelum perang saudara, penduduk Chechnya

diperkirakan berjumlah satu juta orang tapi puluhan ribu orang tewas dalam konflik di 1994-96 dan ribuan penduduk lagi menyelamatkan diri dari pertempuran.

        Sebanyak 50.000 sampai 60.000 pengungsi diperkirakan akan memberi suara di tempat-tempat pemungutan suara khusus.

        Presiden Rusia Boris Yeltsin, yang kini menghadapi penyakit radang paru-paru, mengerahkan ribuan prajuritnya Desember 1994 ke Chehcnya untuk memadamkan upaya separatis yang dipimpin mendiang presiden Dzhokhar Dudayev.

        Namun tak sampai sebulan setelah mengerahkan tak kurang dari 10.000 prajuritnya, presiden Rusia tersebut malah menghadapi gejala yang tak menguntungkan.

        Penyebabnya ialah sekalipun serangan dilancarkan terhadap ibukota Chechnya, Grozny

, pasukan Kremlin mulai kehilangan banyak komandan.

        Yeltsin harus segera bertindak menyelesaikan konflik Chechnya

atau menghadapi risiko dikucilkan oleh militernya.

        Silang pendapat mulai merebak di kalangan komando militer Rusia, terbukti dengan mundurnya wakil komandan Angkatan Darat Rusia Jenderal Edouard Vorobiev –yang diduga menjadi korban tindakan menteri pertahanan saat itu Pavel Grachev.

        Kini setelah tentaranya dipermalukan para petempur Chechnya

, Kremlin tetap bermaksud mencegah aksi separatis republik Kaukasus tersebut melalui jalur diplomatik.

        Deputi menteri luar negeri Rusia Viktor Posuvalyuk, menjelang pemungutan suara di Chechnya memperingatkan masyarakat internasional mengenai persoalan peka berupa kedaulatan Chechnya

.

        Ia, menurut laporan, mengatakan bahwa Rusia siap memutuskan hubungan dengan setiap negara yang memberi pengakuan diplomatik kepada Chechnya

.

        “Saya telah memperingatkan seluruh masyarakat internasional,” katanya sebagaiman dikutip Reuter.

        Meskipun tak ada negara yang mengakui Chechnya, penyelenggaraan pemilihan umum di Chechnya

dipandang sebagai kekalahan bagi Yeltsin.

        Dua pilihan utama

        Dalam pemungutan suara pada Senin, rakyat Chechnya

tampaknya harus memilih antara tokoh gerilya berpangkat jenderal dan seorang komandan radikal berusia muda yang di Rusia dicap teroris.

        Pemilihan presiden dan parlemen Chechnya tersebut dipandang penting bagi republik Kauskasus itu untuk dapat kembali ke kedamaian. Setelah 21 bulan pertempuran, sebagian besar wilayah Chechnya

dilaporkan hancur.

        Dari 15 calon, empat calon paling menonjol mendukung separatis dari Rusia –yang pertama kali diproklamasikan tahun 1991, tapi perbedaan di antara dua calon yang dipandang paling potensial untuk menang memperlihatkan perpecahan untuk mewujudkan kemerdekaan itu.

        Mereka adalah Aslan Mskhadov, Shamil Basayev, jurubicara kelompok separatis Movladi Udugov, dan Presiden saat ini Zelimkhan Yandarbiyev.

        Meskipun tak ada angket jajak pendapat, banyak pihak diberitakan berpendapat bahwa Aslan Maskhadov –kepala staf militer yang berhasil memukul pasukan Rusia– akan unggul.

        Maskhadov juga telah membuktikan diri sebagai orang yang handal di meja perundingan. Dia lah yang menandatangani persetujuan 31 Agustus 1996 dengan penasehat keamanan Rusia saat itu Alexander Lebed bagi pembekuan keputusan akhir upaya kemerdekaan Chechnya sampai lima tahun.

        Pasukan Rusia kemudian ditarik sehingga rakyat Chechnya

memperoleh kemerdekaan de facto.

        Maskhadov (45) telah mengukir nama sebagai pahlawan dan tak banyak yang meragukan bahwa ia akan terpilih sebagai presiden.

        Namun selama kampanye ia dilaporkan tidak bersemangat, dan menghindari pertemuan terbuka serta wartawan, sehingga mengundang spekulasi bahwa ia mengkhawatirkan keselamatannya.

        Meskipun demikian sebagian orang berpendapat Maskhadov –yang menyandang pangkat kolonel dalam militer bekas Uni Sovyet– tidak terbiasa dengan kehidupan masyarakat sipil.

        Namun ia mendapat saingan dari komandan lapangan spektakuler yang berhasil menyerbu wilayah Rusia, Shamil Basayev (32).

        Basayev disebut-sebut memiliki apa yang tidak dimiliki Maskhadov; muda, dibenci di Moskow dan politikus alam.

        Bagi rakyat Chechnya

, yang sudah kecewa menghadapi prospek perundingan yang mungkin akan membuat republik tersebut membuat konsesi lebih lanjut, tekad dan semangat Basayev merupakan ilham.

        Apa pun yang buruk bagi Rusia adalah baik bagi Chechnya dan Basayev, bagi banyak rakyat Chechnya

, cocok untuk itu.

        Basayev dicari sebagai teroris oleh Moskow karena memimpin penyerbuan yang menciptakan penyanderaan di kota Budennovsk, Rusia Selatan, pada Juni 1995 dan memaksa Kremlin memulai perundingan dengan Chechnya.

        Untuk menang dalam babak pertama, para calon harus meraih lebih dari 50 persen suara.

        Jika tak ada calon yang meraih mayoritas mutlak, dua calon utama akan bersaing memperebutkan kemenangan. (28/01/97 10:03)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: