Chaidarabdullah’s Weblog

PENGUNGSI AFRIKA KIAN MEMBEBANI YAMAN

Posted on: Januari 20, 2009

Perang berkepanjangan di Somalia sejak awal 1990-an memaksa banyak warga Somalia dan negara tetangganya meninggalkan negeri mereka dan mencari tempat tinggal di negara lain agar mereka bisa hidup secara damai.

Mereka memilih Yaman sebagai tujuan akhir perjalanan dengan bantuan perompak di Laut Merah dan Samudra Hindia. Para perompak membawa mereka ke tempaT penampungan, demikian laporan kantor berita resmi Yaman, Saba.
Pengungsi Somalia dan Afrika memilih Yaman karena negara Arab tersebut memberi mereka perawatan dan bantuan lain kendati kemampuannya terbatas, dan ada ungkapan kecemasan mengenai arus pengungsi yang terus berdatangan dari Tanduk Afrika ke negeri itu.
“Tak diragukan bahwa pengungsi Afrika, yang jumlahnya bertambah dengan mencolok, menjadi beban yang sangat besar bagi Yaman,” kata Menteri Urusan Tenaga Kerja dan Sosial Yaman Amat Ar-Razaq Hummad.
Kendati ada bantuan dan dukungan internasional, ia mengatakan, semua itu tidak cukup. Yaman menghadapi angka tinggi pengangguran dan lebih banyak pengungsi akan berdampak pada jumlah pengangguran di Yaman.
Berbagai upaya internasional dalam mengurus pengungsi, Wakil Komisi Tinggi PBB Urusan Pengungsi di Klear Ann, Sana’a, mengatakan, komisi tersebut menyediakan bantuan pangan untuk pengungsi Afrika yang terdaftar di berbagai pusatnya.
Lembaga itu juga memberi mereka layanan pendidikan dan kesehatan.
“Layanan tersebut juga mencakup pengungsi yang tinggal di pusat perumahan di luar dan mengurus kesehatan mereka. Layanan itu memberi pinjaman lunak kepada pengungsi untuk melaksanakan proyek berukuran kecil dan memberi yang lain pelatihan keterampilan,” katanya.
Mengenai situasi pengungsi di Yaman dan alasan di balik pemilihan negeri tersebut sebagai tempat perlindungan, pengungsi Somalia Rumanah Sharef mengatakan, perang Somalia memaksa mereka dan keluarganya kembali mengungsi ke Yaman.
“Dalam pelayaran, kami mendapat bantuan perompak laut yang membawa kami ke pantai Yaman. Kemudian, kami menyusup ke berbagai kota besar dalam upaya mencari nafkah,” kata Sharef.
Perempuan itu menyatakan, ia dan saudaranya menjalani hidup yang stabil dan aman.
Ia juga mengatakan, ia saat ini bekerja sebagai pelayan di rumah warganegara Yaman di Sana’a.
“Rakyat Yaman baik dan memperlakukan kami seperti saudara mereka. Kadangkala, mereka baik pada kami, kadangkala memberi kami bantuan, pakaian, dan barang lain,” katanya.
Abdullah Mohammad, pengungsi Somalia yang tiba di pantai Yaman pada 2008, sependapat dengan Sharef.
“Saya menjalani kehidupan rutin saya di Sana’a, tempat saya belajar bahasa Arab di sekolah penghapusan buta-huruf. Ini membantu saya memperoleh pekerjaan untuk memperbaiki hidup saya,” kata Mohammad.
Ia memberi contoh resiko yang dihadapi teman-temannya sewaktu berada di laut dua bulan sebelumnya. Mereka ingin pergi ke pantai Yaman dan ribuan orang Somalia tenggelam dan meninggal di Samudra Hindia dan di Teluk Aden.
Alasan bagi penderitaan tersebut, katanya, adalah perahu perompak yang jelek dan banyaknya jumlah pengungsi di perahu itu.
Sementara itu, pengungsi Ethiopia bernama Blaili Sahlouh yang tiba di Yaman pada 1991 melalui Laut Merah mengatakan, ia hanya bermaksud menggunakan Yaman sebagai persinggahan untuk menuju negara lain di Eropa atau Kanada.
Ia menyatakan, keadaan memaksa dia tetap tinggal di negara itu. Ia menyatakan, ia telah bekerja sebagai jurumasak di beberapa kedutaan besar dan restoran Yaman.

Upaya Yaman
Yaman menyampaikan kekhawatiran mengenai peningkatan pendatang Afrika ke negeri itu dan bertambahnya jumlah pengungsi yang akan berdampak pada pembangunan negeri tersebut.
Humad mengatakan, Yaman telah melancarkan berbagai upaya untuk menyelesaikan masalah pengungsi itu. Presiden Ali Abdullah Saleh melancarkan upaya yang terus-menerus untuk menjadi penengah penyelesaian silang-pendapat di antara berbagai faksi yang berperang di Somalia.
Ia selalu berusaha menghentikan perang tersebut, memulihkan keamanan dan kestabilan di Somalia, dan menjamin kembalinya pengungsi ke rumah mereka.
Meskipun Ann menjelaskan bahwa kerjasama dan koordinasi dengan Yaman meliputi pendataan jumlah pengungsi, penetapan langkah untuk mengendalikan pendatang baru ke negeri tersebut guna menilai bantuan di tanah air mereka, membantu Yaman menghindari pengungsi yang datang melalui Pantai Afrika dan melindungi mereka.
Ia menyatakan, kerjasama dengan berbagai organisasi masyarakat Yaman dan Bulan Sabit Merah Yaman memberi pengungsi layanan kemanusiaan dan kesehatan gratis.
Jumlah pengungsi yang mengalir ke Yaman beragam. Menteri Humad mengatakan, “Kami tak dapat berbicara mengenai statistik atau jumlah pengungsi secara pasti karena pendatang Afrika tiba di berbagai pantai Yaman secara gelap.”
Ia mengatakan, kebanyakan pengungsi masuk ke berbagai kota besar Yaman dan tak kembali ke pusat penampungan yang ditaja organisasi internasional melalui kerjasama dengan pemerintah Yaman.
“Jumlah pengungsi Afrika di Yaman, yang terdaftar di pusat penampungan badan urusan pengungsi PBB, mencapai 133.000 orang. Sebanyak 126.000 adalah pengungsi Somalia dan sisanya dari Eritrea, Ethiopia dan Irak,” kata Ann.
Ia menyatakan, pengungsi itu ditampung di tiga pusat penampungan. Mengenai pengungsi yang datang ke Yaman secara gelap, ia mengatakan, ia tak mempunyai keterangan mengenai jumat mereka selain yang terdaftar di pusat penampungan.

Kecelakaan
Pengungsi Somalia selalu menghadapi kematian dalam perjalanan mereka ke Yaman. Dalam beberapa peristiwa perahu tenggelam baru-baru ini; ratusan orang hilang dan dikhawatirkan tewas tenggelam setelah tiga perahu yang membawa sebanyak 400 pengungsi dari Somalia terbalik Sabtu (17/1) di dekat Yaman, kata seorang pejabat PBB.
Sedikitnya selusin mayat telah dihanyutkan arus ke pantai Yaman, kata Laila Nassif, yang memimpin kantor Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) di kota pantai Yaman, Aden.
Nassif mengatakan, dua perahu yang membawa sebanyak 300 pendatang terbalik di Laut Merah. Hanya 30 orang sejauh ini diselamatkan, dan upaya pertolongan terhambat cuaca buruk di daerah tersebut, kata Nassif.
Dalam kecelakaan lain, satu perahu yang membawa sebanyak 120 pengungsi terbalik di Laut Arab dan 80 orang dapat berenang ke pantai, kata Nassif.
Semua pengungsi itu adalah orang Somalia, kata pejabat PBB tersebut.
Ratusan orang Afrika meninggal setiap tahun saat mencapai Yaman. Banyak di antara mereka tewas tenggelam atau diserang oleh perompak dan penyelundup di perairan berbahaya yang memisahkan Somalia dan Jazirah Arab.
Badan PBB yang mengurusi pengungsi tersebut tahun lalu melaporkan bahwa lebih dari 43.500 pengungsi –kebanyakan orang Somalia– tiba secara gelap dengan naik perahu ke Yaman.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: