Chaidarabdullah’s Weblog

AS KIAN ARAHKAN SERANGAN KE IRAN Oleh Chaidar Abdullah

Posted on: Oktober 19, 2011

Pertikaian politik Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam pekan kedua Oktober, setelah Washington pada Selasa (11/10) menuduh dua warga negara Iran berkomplot untuk membunuh Duta Besar Arab Saudi untuk  Washington Adel Al-Jubeir.

Persekongkolan itu, menurut AS, dibongkar oleh agen FBI dan Drug Enforcemen Administration yang mendapati kedua tersangka –Manssor Arbabsiar dan Gholam Shakuri– “telah meminta bantuan kartel narkotika Meksiko dalam mengatur pembunuhan tersebut”.

Manssor Arbabsiar ditangkap pada 29 September dan sejak itu dilaporkan telah mengaku serta memberikan “keterangan lain yang berharga tentang anasir peran  pemerintah Iran dalam rencana itu”, sementara Shakuri “masih berkeliaran” di Iran.

Arbabsiar diberitakan bersaksi bahwa rencana tersebut “diotaki oleh pejabat tinggi Iran dengan rencana meledakkan kedutaan besar Arab Saudi dan Israel di Washington”.

Arbabsiar dilaporkan mengaku ia “diarahkan oleh anggota senior pemerintah Iran”, termasuk seorang sepupu yang “menjadi anggota Angkatan Darat Iran tapi tak memakai seragam”.

Arbabsiar dan orang kedua, Gholam Shakuri, seorang pejabat Iran, disebutkan di dalam keluhan pidana yang diajukan Selasa sore (11/10) di pengadilan federal di New York. Mereka didakwa “bersekongkol untuk membunuh seorang pejabat asing dan bersekongkol untuk menggunakan senjata pemusnah massal, bom, di antara dakwaan tersebut”.

Tuntutan itu menggambarkan percakapan yang diduga dilakukan oleh Arbabsiar yang “menginstruksikan seorang informan untuk membunuh duta besar Arab Saudi dan pembunuhan tersebut dapat dilakukan di satu restoran”. Ketika informan itu dilaporkan menyampaikan keprihatinan mengenai orang Amerika yang juga makan di restoran tersebut, Arbabsiar, menurut dokumen pengadilan itu, mengatakan ia lebih suka orang lain tak ikut jadi korban, tapi “kadang-kala kita tak mempunyai pilihan lain … .”
Menurut para pejabat AS, Arbabsiar dua kali bertemu pada Juli dengan informan DEA di kota Reynosa, Meksiko utara, di seberang perbatasan dari McAllen, Texas, dan merundingkan pembayaran 1,5 juta dolar AS bagi pembunuhan duta besar Arab Saudi itu. Sebagai uang muka, kata para pejabat tersebut, Arbabsiar mengirim dua bayaran 49.960 dolar AS pada 1 dan 9 Agustus ke rekening bank rahasia FBI setelah ia kembali ke Iran.

Para pejabat mengatakan Arbabsiar terbang dari Iran melalui Frankfurt, Jerman, ke Mexico City pada 29 September bagi pertemuan perencanaan terakhir, tapi tak mau memasuki Meksiko dan belakangan naik pesawat ke New York, tempat ia ditangkap.

Kepala Komite Intelijen di Senat AS Mike Rogers, menurut laporan media transnasional, mengatakan pemerintah Iran, Pengawal Republik dan unit operasi khususnya –Pasukan Quds– “tentu saja tahu mengenai rencana itu”.

Tudingan Amerika Serikat tersebut tentu saja mengundang beragam reaksi. Pemerintah Arab Saudi mengeluarkan reaksi singkat dan menyatakan rencana itu adalah pelanggaran tercela terhadap konvensi, standar, dan norma internasional.

The Wall Street Journal mengutip satu sumber di pemerintah Arab Saudi yang menyatakan komplotan itu sebenarnya “mengincar Raja Abdullah” sebab duta besar tersebut adalah orang kepercayaannya.

Tapi Iran telah membantah semua tuduhan itu dan menyebutnya “dusta besar yang takkan beralih ke mana-mana”.

“Semua jenis prilaku usang ini dilandasi atas kebijakan bermusuhan Amerika dan Zionis,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ramin Mehmaparast sebagaimana dikutip media. “Dan itu semua cuma lah permainan dungu.”
Dan utusan Iran di PBB Mohammad Khazaee pun tak tinggal diam. Ia melayangkan surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Ban Kim-moon untuk menyampaikan pengutukan keras Iran terhadap pernyataan memalukan mengenai dikaitkannya negara Persia tersebut dengan aksi kejahatan itu.

Khazaee bahkan menuduh AS sebagai penghasut perang dalam surat kepada Ban, sebelumnya penasehat Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, Ali Akbar Javanfekr membantah tuduhan yang dilontarkan Washington.

Menurut Khazaee, itu adalah adalah skenario yang dihembuskan untuk menarik perhatian masyarakat Amerikat dari masalah di dalam negeri mereka. Media massa, Selasa (11/10) melaporkan satu pengadilan New York mendakwa kedua orang Iran tersebut melakukan aksi teror terhadap kedutaan besar Arab Saudi dan Israel.

Tapi benarkah ada usaha pembunuhan yang dilancarkan? Bukti mengenai rencana itu dan otak pelakunya tidak memiliki kaitan langsung: suku asal orang yang ditangkap dan pernyataan yang diduga mereka keluarkan.

Kasus tersebut tampaknya tak memiliki konsep praduga tak bersalah, sebab para tersangka sudah diputuskan bersalah bahkan sebelum proses pengadilan.

Beberapa ahli berpendapat kemelut itu dilontarkan tepat pada waktunya. Iran memang telah lama menjadi duri dalam daging di Timur Tengah sebab AS merasa sudah terlalu lama Teheran menghalangi kendali penuhnya di Timur Tengah Raya, mulai dari Marokko di Afrika sampai Pakistan di Asia Selatan. Pada saat yang sama, AS mempertahankan persekutuan di wilayah itu dengan Arab Saudi dan Israel.

Presiden AS Barack Obama sendiri sejak lama tak memandang Iran sebagai rekan, apalagi teman. Sewaktu ia masih menjadi seorang senator
AS dan masalah nuklir Iran menjadi sengketa dengan Amerika, Obama dalam acara tayang-bincang Oprah Winfrey mengatakan, “Masyarakat internasional takkan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.”
Agama juga dipandang memainkan peran dalam kasus tersebut; Arab Saudi –yang berfaham Sunni– dan Yahudi di Israel diduga tak memiliki berteman baik dengan Iran, yang berfaham Syiah.

Ketegangan di wilayah yang selalu bergolak itu diperjelas dengan berbagai peristiwa belakangan ini –“Arab Spring”, skandal mata-mata ketika Iran menangkap beberapa orang yang diduga sebagai mata-mata AS, dan pembunuhan ahli fisika nuklir Iran –yang membuat Teheran menuding negara Yahudi.

Selain itu, pertengkaran antara Ahmadinejad dan pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei dan kemungkinan terkucilnya Iran akibat masalah nuklirnya juga membuat tiba saatnya untuk melancarkan aksi anti-Iran.

Oleh karenanya, sekalipun rencana itu tak ada sama sekali, tetap saja akan ada upaya untuk tidak melepaskan peluang berharga saat ini untuk melancarkan propaganda guna menyerang Iran.

Makin kucilkan Iran
Dua hari setelah lembaga kehakiman AS melontarkan tudingan, Barack Obama pada Kamis (13/10) mengeluarkan peringatan Iran akan menghadapi sanksi paling berat, sementara para pejabat Keuangan AS mengarahkan tindakan terhadap bank sentral Iran.

Di Washington Obama Obama mengatakan pada suatu taklimat, sebagaimana dilaporkan Reuters, Amerika Serikat takkan mengangkat pilihan apa pun dari meja dalam berurusan dengan Iran. Pernyataan semacam itu biasa digunakan oleh para pejabat AS terhadap Teheran sebagai kode diplomatik mengenai kemungkinan aksi militer.

Obama memangku jabatan pada 2009 dengan janji akan mengupayakan keterlibatan diplomatik dengan Iran. Tapi uluran tangannya gagal menghentikan kemajuan nuklir Iran dan ia kemudian memelopori beberapa paket sanksi internasional.

Peristiwa paling akhir tersebut mencuatkan ketegangan baru antara pemerintah Obama dan Iran, yang menyatakan pekerjaan nuklirnya bertujuan damai, yaitu untuk menghasilkan energi listrik.

Selama taklimat bersama Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak, Obama mengatakan Amerika akan terus “menerapkan sanksi paling keras dan terus mengerahkan masyarakat internasional untuk memastikan Iran kian terkucil dan membayar harga atas prilaku semacam itu”.

Senator dari Partai Republik Richard Shelby malah menyatakan pemerintah AS sebenarnya dapat melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam membujuk negara lain untuk menerapkan hukum sanksi.

Ia bukan hanya mengincar Iran tapi juga negara. “Satu masalahnya ialah Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri secara seksama telah berusaha menghindari tindakan untuk memasukkan mitra dagang utama AS, Rusia atau China ke dalam sanksi yang diwajibkan oleh AS,” katanya sebagaimana dikuitp media transnasional.

Gedung Putih memang terus berusaha menyoroti perbedaan antara dukungan Iran bagi aksi perlawanan rakyat terhadap rejim lain otoriter di wilayah tersebut dan perlakuan kejamnya terhadap pemrotes di dalam negerinya. Obama pun sering mengulangi pesan itu.

Pangeran Saud dari Arab Saudi, ketika berbicara di Wina –tempat ia sedang membahas pembukaan pusat dialog agama, diberitakan mengatakan Riyadh akan menganggap Teheran bertanggung jawab.

Sementara itu,  Iran menggambarkan tuduhan tersebut sebagai rencana untuk menciptakan percekcokan antara kedua negara besar di Timur Tengah itu.

“Kami tak memiliki masalah dengan Arab Saudi … Biarpun penafsiran kami mengenai perkembangan di wilayah ini berbeda … Saya berharap pemerintah Arab Saudi menyadari kenyataan bahwa musuh kita tak mengingini kita mencapai kesepakatan dan bekerja sama,” kata Menteri Luar Negeri Iran Ali Akbar Salehi kepada radio resmi negerinya Kamis, sebagaimana dikutip kantor berita trans-nasional.

Tuduhan tersebut jelas ditujukan untuk menimbulkan kekhawatiran mengenai ambisi nuklir Iran, yang dicurigai oleh Amerika Serikat dan sekutunya untuk membuat senjata nuklir.

Beberapa ahli Iran mengatakan tuduhan tersebut mengancam kestabilan di Teluk –tempat Arab Saudi dan Iran –dua kekuatan terbesar di wilayah itu– memiliki persaingan sengit selama beberapa dasawarsa dan Washington menempatkan sangat banyak personel militer.

Rusia, yang membangun pembangkit listrik tenaga nuklir buat Iran dan telah menggunakan tekanan atas Teheran sebagai alat diplomatik dalam hubungan diplomatik dengan Washington, menyampaikan keprihatinan sehubungan dengan laporan tentang rencana tersebut.

Pada Rabu (12/10), Menteri Luar Negeri AS Hillary Rodham Clinton membahas dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov kemungkinan aksi untuk kian mengucilkan Iran sehubungan dengan temuan tentang persekongkolan tersebut.

Hillary sudah beberapa kali mengadakan pembicaraan telepon dan membahas situasi itu dengan Lavrov, serta timpalannya yang lain di Meksiko serta Arab Saudi.

Amerika Serikat juga mendesak dunia agar melakukan tindakan kolektif terhadap Iran, dan Hillary mencap rencana yang diduga untuk membunuh duta besar Arab Saudi itu sebagai “peningkatan keadaan yang berbahaya”.
Namun, juga muncul pendapat bahwa kemelut soal rencana pembunuhan tersebut sebagai konsumsi dalam negeri AS. Jika situasi semacam itu muncul dan pemerintah tak bereaksi, berarti pemerintah membuat masalah tersebut jadi permainan pesaingnya dari Partai Republik yang akan maju dalam pemilihan presiden tahun depan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: