Chaidarabdullah’s Weblog

PERTUKARAN TAHANAN PALESTINA-ISRAEL BUKTI KEAMPUHAN JALUR POLITIK Oleh Chaidar Abdullah

Posted on: Oktober 19, 2011

Perundingan lewat jalur politik kembali memperlihatkan kekuatan dalam pertukaran tahanan Palestina-Israel, dan proses bagi kesepakatan itu telah diluncurkan sejak Gilad Shalit ditangkap pada 2006.


Hasil dari proses panjang tersebut ialah sekarang 478 keluarga dapat bersatu lagi. Prajurit Yahudi Gilad Shalit dan 477 tahanan Palestina –yang dibebaskan penguasa Yahudi pada Selasa (18/10) dalam tahap pertama pelaksanaan kesepakatan itu.

Sebanyak 550 tahanan dan keluarga mereka menanti kesempatan serupa sekitar dua bulan lagi.

Seperti banyak gagasan lain politik dan diplomatik dalam konflik Palestina-Israel, pengumuman baru-baru ini mengenai pembebasan tahanan baru dilandasi atas penyelesaian yang sama dengan yang telah puluhan kali diajukan sebelumnya. Tapi semua itu gagal, sebab waktunya –dan seringkali gara-gara i’tikad politik Israel– tidak tepat.

Contoh kegagalan paling akhir adalah ketika Kuartet Internasional berusaha menghidupkan lagi perundingan perdamaian langsung Palestina-Israel. Sebelumnya Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengguncang dunia lewat Sidang Majelis Umum PBB, saat ia pada 23 September meminta pengakuan PBB sebagai anggota penuh.

Setelah Abbas bertindak, Kuartet Internasional mengusulkan pertemuan baru. Tapi pemerintah Yahudi mengumumkan pembangunan 1.100 rumah baru, padahal perundingan Palestina-Israel macet Oktober 2010 gara-gara pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tak mau memperbarui moratorium pembekuan pembangunan permukiman Yahudi.

Palestina meminta Tel Aviv menghentikan dulu pembangunan pemukiman Yahudi baru perundingan diluncurkan, tapi pemerintah Netanyahu menghendaki perundingan “tanpa prasyarat”.

Namun ada perbedaan dalam kasus pertukaran tahanan. Secara terpisah pemimpin Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS) Khaled Meshal dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan HAMAS akan membebaskan Shalit –yang ditangkap oleh HAMAS pada 2006. Sementara itu pemerintah Yahudi akan membebaskan 1.027 tahanan Palestina –sebagian dari mereka telah dijebloskan ke dalam penjara Yahudi selama beberapa dasawarsa.

Tony Karon, redaktur senior di majalah Time, berkomentar hasil yang saling menguntungkan jarang terjadi di Timur Tengah. Tapi kesepakatan yang menghasilkan pembebasan Gilad Shalid dan 1.027 tahanan Palestina memungkinkan para pelakunya mengaku “telah meraih kemenangan”.

Perundingan bagi pertukaran itu telah berlangsung bertahun-tahun. Kenyataan bahwa proses tersebut memberi secercah harapan kendati, keberhasilan sesungguhnya baru bisa diumumkan jika semua tahanan telah menikmati kebebasan mereka, mencerminkan dua kenyataan yang bertolak-belakang.

Pertama adalah Israel, sebagai kekuatan pendudukan, terus mengendalikan hidup orang Palestina di wilayah yang didudukinya, dan kedua, keadaan baru di tingkat regional serta internasional menjadi tantangan bagi Israel.

Kuat kendali Israel atas rakyat Palestina di wilayah pendudukan terlihat jelas dalam perbedaan jumlah tahanan yang ditukar: 1.027 tahanan Palestina, dalam kasus ini HAMAS, ditukar dengan satu prajurit Israel, Gilad Shalit.

Di sisi lain, sekalipun kita menyisihkan kendali Israel atas tanah, perbatasan, ekonomi, makanan, pendidikan, dan setiap segi kehidupan di Tepi Barat Sungai Jordan, Jalur Gaza dan Jerusalem Timur, Israel secara langsung mempertahankan kekuasaan atas kehidupan ribuan tahanan Palestina. Sebagian dari mereka divonis oleh pengadilan militer –yang tidak sah berdasarkan Konvensi Jenewa– dan yang lain, termasuk anggota terpilih Parlemen Palestina, dijebloskan ke dalam penjara berdasarkan perintah penahanan administrasi –yang sama tidak sahnya.

Tak lama sejak Shalit ditangkap, gerilyawan Palestina berusaha mengatur pertukaran tahanan –pembebasannya ditukar dengan pembebasan lebih dari 1.000 tahanan Palestina.

Dalam pertandingan poker kelas atas itu, Shalit tetap menjadi satu-satunya alat tawar Palestina. Pada kenyataannya, menahan Shalit untuk pertukaran tahanan pada masa depan menjadi satu-satunya alasan bagi HAMAS untuk menahan dia.

Sementara itu, dari segi jumlah tahanan negara Yahudi jauh lebih unggul; ribuan tahanan –sebanyak 11.000 dalam beberapa tahun belakangan. Sebagai kekuatan pendudukan, Tel Aviv sepenuhnya mengendalikan permainan atas semua orang yang diduganya –atau dinyatakan diduganya– menimbulkan ancaman bagi keamanan. Penguasa Yahudi merusak moral sekutu politik, tetangga, teman dan keluarga tahanan.

Ketidak-seimbangan itu merusak persatuan keluarga yang menjadi dasar bagi keteguhan gerilyawan Palestina, dalam menentang pendudukan. Kondisi tersebut membuat lemah kekuasaan pemimpin Palestina, yang memang sudah minim, di wilayah pendudukan, karena ketidak-mampuan mereka untuk mewujudkan pembebasan tahanan merusak peluang mereka untuk menerapkan wewenang.

Peran perubahan

Dalam ketidak-berdayaan Pemerintah Otonomi Palestina tersebut, Mesir tampil, memainkan peran dan berhasil mewujudkan kesepakatan pertukaran Shalit dengan 1.027 tahanan Palestina. Keberhasilan itu menaikkan citra Kairo sebagai penengah sekaligus mencuatkan harapan baru bagi kompromi lain dalam hubungan Palestina-Israel, di tengah konflik yang tak kunjung selesai.

“Saya harap kesepakatan ini menjadi batu loncatan menuju perdamaian antara Palestina dan Israel,” kata Shalit kepada TV Mesir, sebagaimana dikutip Xinhua– sebelum ia diserahkan kepada pemerintah Yahudi, Selasa.

Prajurit Yahudi yang telah menjadi perhatian dunia tersebut juga berharap semua tahanan Palestina dapat dibebaskan.

Mesir memainkan peran besar dalam pertukaran itu, yang menunjukkan peran regional Mesir tak bisa dihilangkan, kata Emad Gad, pengulas di Ahram Center bagi Kajian Politik dan Strategi, sebagaimana dikutip media.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas pun, dalam pidato saat upacara penyambutan tahanan Palestina yang dibebaskan, mengacungkan jempol atas upaya tak kenal lelah yang dilancarkan pemerintah Mesir
Secara umum wilayah tersebut sedang menghadapi gelombang perubahan yang memperdalam keyakinan pada peran kuat Mesir.

Apa yang disebut “Arab Spring” tampaknya juga ikut memberi warna. Pemerintah baru di wilayah itu, perubahan hubungan antar-negara regional, upaya Abbas untuk diakui sebagai negara di PBB dan pergeseran politik di dalam negara Yahudi sendiri ikut memainkan peran.

HAMAS, yang menguasai Jalur Gaza, tiba-tiba harus menjawab lonjakan langka dukungan; apakah itu akan berjangka panjang atau tidak masih belum jelas; buat pesaing politiknya, Fatah –yang dipimpin oleh Pemerintah Otonomi Palestina di Tepi Barat.

Ketika Abbas berbicara atas nama Organisasi Pembebasan Palestina guna mengajukan tuntutan agar diakui sebagai negara anggota di PBB, popularitasnya secara tiba-tiba mencuat.

Meskipun HAMAS telah lama mengupayakan pertukaran tahanan semacam itu, sebagian dari upaya belakangan ini kelihatannya dipengaruhi oleh persaingan politik lama dengan Pemerintah OtonomI Palestina.

Cara HAMAS memilih tahanan yang dimintainya dibebaskan juga berpengaruh, sebab gerakan tersebut mencakup semua pegiat dari faksi lain dan dari semua wilayah pendudukan –Tepi Barat, Jalur Gaza serta Jerusalem Timur. Tindakan tersebut membuahkan kegembiraan dan dukungan rakyat Palestina.

Kesepakatan itu pun dipandang sebagai saling menguntungkan.

Perdana Menteri Mesir Essan Sharaf memuji kesepakatan pertukaran tahanan tersebut dan memandangnya sebagai upaya guna mendorong kestabilan serta keamanan regional, demikian laporan kantor berita Mesir, MENA.

Sharaf menyatakan melalui penyelesaian masalah Palestina sejalan dengan resolusi sah internasional, “keamanan dan kestabilan regional akan merebak di seluruh wilayah” itu.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon tak ketinggalan menyambut baik pertukaran tahanan tersebut dan memujinya sebagai “terobosan penting kemanusiaan”.

Ban telah lama menyerukan diakhirinya penangkapan Gilad Shalit  “yang tak bisa diterima” dan juga pembebasan tahanan Palestina. Selama bertahun-tahun Sekretaris Jenderal PBB tersebut diberitakan “telah secara aktif mendukung saluran dialog guna menyelesaikan masalah itu”.

Rakyat Palestina telah sangat menderita selama enam dasawarsa, sehingga mereka tak bisa menikmati kebebasan murni atau hak asasi manusia.

PBB adalah bagian dari Kuartet Timur Tengah, yang juga meliputi Uni Eropa, Rusia dan Amerika Serikat, dalam upaya mencari penyelesaian dua-negara dalam konflik Palestina-Israel –Israel yang aman hidup dalam kedamaian dan berdampingan dengan Negara Palestina Merdeka.

Utusan dari para penengah Kuartet dijadwalkan mengadakan pertemuan terpisah dengan wakil Palestina dan Israel di Jerusalem –yang menjadi salah satu pusat perebutan Palestina-Israel– pada 26 Oktober, demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS, Senin (17/10.

Dengan menyebut pertukaran tersebut sebagai “langkah penting”, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Mark Toner, sebagaimana diberitakan Xinhua, mengatakan pertemuan itu bertujuan “memulai persiapan dan mengembangkan agenda bagi pelaksanaan perundingan” antara kedua negara tersebut.

Kuartet Internasional mengeluarkan pernyataan pada 23 September guna menyeru Palestina dan Israel agar melanjutkan perundingan perdamaian dalam waktu satu bulan.

Kelompok penengah itu mengusulkan kedua pihak mengajukan usul menyeluruh dalam waktu tiga bulan mengenai wilayah dan keamanan, membuat kemajuan mendasar dalam waktu enam bulan, dan mencapai kesepakatan menyeluruh paling lambat pada akhir 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: