Chaidarabdullah’s Weblog

SURIAH “TITIK API” BARU DI WILAYAH BERGOLAK Oleh Chaidar Abdullah

Posted on: November 1, 2011

Jakarta, 1/11 – Setelah pemerintah di tiga negara Afrika –Tunisia, Mesir dan Libya– tumbang lewat aksi rakyat, maka perhatian beralih ke Timur Tengah dan Suriah menjadi pusat perhatian saat benturan antara warga sipil dan pasukan pemerintah tak kunjung reda.

        Pemerintah Presiden Bashar Al-Assad di Suriah menghadapi sorotan yang kian besar karena caranya menangani demonstran, saat kubu oposisi telah meminta senjata dan campur-tangan NATO seperti yang terjadi di Libya. Sementara itu kelompok “Hawkish” di Washington, seperti mantan calon presiden dan Senator AS John McCain telah menyerukan campur-tangan militer di Suriah.

Tujuannya ialah seperti yang dilakukan Barat di Libya; “melindungi warga sipil”.

Mengingat kurangnya kepedulian terhadap nyawa manusia dan  keengganan terhadap keadilan –seperti yang terjadi di Irak, Palestina, Lebanon, Afghanistan, Pakistan dan belakangan di Libya– sebenarnya apa yang berada di balik pentingnya campur-tangan Barat di Suriah?
Gerakan protes di Suriah berawal di Dara’a di Suriah baratdaya –yang dijuluki pusat protes anti-Bashar. Dara’a, yang warganya biasanya mendukung Partai Baath –yang berkuasa di Suriah, dilaporkan menderita kekurangan pasokan air sehingga memicu protes besar-besaran terhadap pemerintah lokal dan pusat karena kegagalan mengatasi kelangkaan air di wilayah tersebut.

Di sana terletak alasan bagi diberitakannya dukungan, agitasi dan “alasan untuk mempersenjatai warga sipil guna menghadapi pemerintah” oleh orang yang mensahkan perang kemanusiaan.

Rasa terlalu naif untuk percaya begitu saja bahwa kepentingan “kemanusiaan” di Suriah menjadi pangkal aksi mengangkat senjata di wilayah tersebut, sebab air telah dan akan terus menjadi penentu utama keamanan negara, sebab masalahnya lebih rumit lagi. Sementara itu tak dapat dipungkiri ada benturan kebijakan luar negeri antara Suriah dan Israel –juga Lebanon– sejak beberapa dasawarsa lalu.

Perang 1967 lah yang menghasilkan perluasan sumber air Israel termasuk kendali atas Dataran Tinggi Golan –yang disebut-sebut memiliki sumber air tawar buat Laut Galilea. Selama beberapa dasawarsa, Dataran Tinggi Golan dan pengembaliannya kepada Suriah telah menjadi penghalang utama perundingan perdamaian Suriah-Israel.

Kebutuhan Israel akan air membuatnya tak mungkin untuk menampung proses itu. Nyatanya, sekalipun memiliki kendali penuh atas Golan, krisis air di Israel pada 2000 sangat parah sehingga pemerintah di Tel Aviv berpaling kepada Turki untuk membeli air.

Selain itu, kehadiran Suriah di Lebanon sejak meletusnya perang saudara di Lebanon pada 1975 memainkan peran penting dalam menghalangi tuntutan Israel yang tak pernah berakhir  akan air.

Kendati Jonston Plan 1955 –di bawah pengawasan pemerintah Dwight David Eisenhower, Presiden Amerika Serikat ke-34 (1953-1961), mengusulkan pengalihan air dari Sungai Litani di Lebanon ke dalam Danau Kinneret (Galilea), rencana tersebut belum secara resmi dirumuskan walaupun itu tetap menjadi prospek yang menarik. Pada 1982 pasukan Israel menetapkan garis depan zona keamanan mereka di Lebanon di sepanjang Sungai Litani. Banyak laporan menduga Israel mengalihkan air Sungai Litani dalam jumlah yang sangat berlimpah ke wilayah Yahudi.

Kehadiran Suriah di Lebanon dan Kesepakatan Suriah-Lebanon mengenai Persaudaraan, Kerja Sama dan Koordinasi, menjadi tantangan bagi Israel dan kegiatannya mengalihkan air. Ketika Suriah menggantikan Israel sebagai kekuatan utama di Lebanon Selatan pada Mei 2000, kekhawatiran Israel bertambah bahwa keberhasilan Suriah dalam menguasai kembali Dataran Tinggi Golan dan Laut Galilea (Danau Kinneret), akan memiliki dampak yang menghancurkan negara Yahudi.

Barangkali ada penjelasan mengenai kenyataan bahwa pada 13 September 2001, sewaktu Amerika Serikat mulai pulih dari kejutaran peristiwa 11/9, kelompok tangguh dan berpengaruh JINSA –Jewish Institute for National Security Affairs– mengeluarkan pernyataan mengenai cara AS mesti bertindak selanjutnya.

Sebagai bagian dari sarannya, lembaga tersebut menunjuk, bukan hanya ke Afghanistan dan Irak, tapi juga Iran, Pakistan, Suriah, Sudan, Pemerintah Otonomi Paelstina, Libya, Aljazair, dan akhirnya Arab Saudi serta Mesir, sebagai tempat berbahaya, kata Soraya Sepahpour-Ulrich, seorang peneliti independen.

Tak lama setelah itu, pada Mei 2002, “Poros Kejahatan” pun diperluas dan mencakup Suriah.

Langkah logis berikutnya ialah Amerika Serikat cuma perlu mensahkan dan menerapkan Syrian Accountability Act dan Lebanon Sovereignity Restoration Act –yang, selain sanksi, menyerukan penarikan tentara Suriah dari Lebanon. Tentara Suriah berada di Lebanon sampai April 2005. Mereka dipaksa meninggalkan Lebanon beberapa bulan setelah terbunuhnya mantan perdana menteri Rafik Al-Hariri, ketika Suriah dituduh terlibat dalam peristiwa tersebut.

Tanpa kehadiran Suriah, Lebanon jadi kian rentan, sehingga memusahkan Israel pada 2006 melancarkan serangan dan serbuan terhadap Lebanon Selatan –yang kaya akan air.

Sekarang, meskipun Israel kalah dalam pendapat umum dalam perang di Lebanon sementara Suriah masih utuh di tengah tuduhan dan kekacauan, tampaknya ada keperluan untuk sekali lagi mengangkat Suriah jadi perhatian dunia. Pada 2007, Suriah menjadi tersangka memiliki program bom nuklir, sementara Israel tak pernah dijamah padahal negara Yahudi itu dipercaya menjadi satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir.

Sebagai anggota rejim Kesepakatan Anti-Penyebaran Nuklir (NPT), dan bukan melaporkan kecurigaan –yang tanpa dasar– kepada Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Israel, dengan lampu hijau dari Amerika Serikat, membom satu instalasi yang diduganya terlibat dalam kegiatan pembuatan senjata nuklir; sekali lagi “diduga”.

Serangan Israel ke Suriah pada 6 September 2007, terbungkus rapi sebagai rahasia sampai kasus itu diungkap oleh mantan perdana menteri  (1996-1999)  dan pemimpin oposisi saat itu Benjamin Netanyahu –Perdana Menteri Israel saat ini.

Netanyahu memangku jabatan pada Maret 2009. Pada April 2009, saluran satelit yang berpusat di London dan didanai AS, Barada TV, mulai menyiarkan propaganda anti-pemerintah Suriah.

Pemimpin Redaksi Barada TV, Malik Al-Abdeh, kata Soraya Sepahpour-Ulrich, adalah pendiri bersama kelompok oposisi Suriah di pengasingan Gerakan bagi Keadilan dan Pembangunan –yang dipimpin oleh Anas al-Abdah.

Taruhan
Baru-baru ini Departemen Luar Negeri AS menarik duta besarnya di Suriah Robert Ford gara-gara keprihatinan mengenai keselamatan pribadinya.

Kelihatannya perubahan situasi belakangan ini akan menggiring Suriah jadi Libya berikutnya. Sejak Muamar Gaddafi tewas, pertentangan antara Amerika Serikat dan Suriah telah meningkat. Kedua negara tersebut telah saling menarik duta besar masing-masing.

Namun Bashar sudah memperingatkan bahwa “skenario Libya” takkan terulang di Suriah, sebab kedua negara tersebut sangat berbeda.

“Suriah bukan Libya, ini adalah negara yang berbeda dari sudut pandang geografik, demografik dan politik. Setiap skenario serupa akan menimbulkan tebusan yang sangat besar bagi penciptanya. Selain itu, skenario semacam itu jelas tak layak di Suriah,” kata Bashar dalam satu wawancara dengan stasiun televisi Rusia, Channel One, Ahad (30/10).

Ia juga memperingatkan memburuknya situasi di Suriah akan menimbulkan dampak negatif luas bagi seluruh masyarakat internasional.

Kini setelah PBB menyatakan 3.000 orang telah tewas selama aksi perlawanan di Suriah, suara Barat kian lantang bagi dijatuhkannya sanksi atas Suriah, dengan tujuan “melindungi warga sipil dari penindasan pasukan pemerintah”.

Tapi warga sipil bukan satu-satunya pihak yang kehilangan nyawa. Bashar Al-Assad, yang menghadapi aksi perlawanan selama tujuh bulan terhadap kekuasaannya, mengatakan “ratusan personel militer, polisi dan pasukan keamanan juga telah tewas”.

“Bagaimana mereka tewas?” Bashar mempertanyakan. “Apakah mereka tewas selama demonstrasi damai? Apakah mereka tewas oleh teriakan seseorang? Tidak mereka tewas oleh tembakan. Jadi kami menanganinya dengan personel bersenjata.”
Sementara itu para menteri Liga Arab yang mengunjungi Suriah memperingatkan Presiden Bashar Al-Assad agar menghentikan kekerasan dan memulai pembaruan atau “menghadapi intervensi internasional”, kata satu surat kabar Kuwait, Ahad (30/10).

Saat duta besar AS di Suriah ditarik, kuatnya tuduhan Amerika Serikat terhadap Suriah juga meningkat. John Mccain, Senator Partai Republik, menyatakan Suriah menjadi “titik api” perhatian Amerika Serikat dan operasi militer adalah pilihan bagi Washington.

Mengingat kondisi yang dihadapi Suriah –termasuk sanksi dan intimidasi dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan negara lain serta gerilyawan Suriah– tampaknya Bashar akan jadi Gaddafi selanjutnya.

Meskipun Suriah tak memiliki sumber daya alam yang sama dengan yang dimiliki Libya, Suriah penting karena posisi geografik strategisnya. Jika Barat melancarkan perang di Suriah, barangkali Barat harus membayar harga yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan yang telah dikeluarkannya untuk Perang Libya.

Bukan tak mungkin perang di Suriah bahkan akan berubah jadi pemicu ledakan dan mengakibatkan kekacauan di seluruh Timur Tengah. Bashar juga sudah mengeluarkan ancaman bahwa jika Barat menyerang Suriah, itu akan jadi “gempa” di Timur Tengah dan membuat wilayah yang memang mudah bergolak tersebut jadi berkobar.

Itu sebabnya, Barat akan menghadapi taruhan besar jika melancarkan perang di Suriah, dan itu diperkirakan bakal terjadi baik Barat menang atau kalah.

Beberapa media dan ahli berpendapat kerugiannya lebih besar daripada keuntungannya jika perang Libya berkecamuk. Luka serius dan kematian pemimpin kawakan di Afrika Utara, Muamar Gaddafi, telah membuat banyak negara mempertimbangkan banyak hal. Presiden Suriah Bashar Al-Assad bisa jadi telah sangat terkesan dengan penderitaan Gaddafi sebelum dan setelah kematiannya. Akhir tragis Gaddafi bukan tak mungkin telah membuat Bashar jadi lebih ulet.

Jumlah korban jiwa di Libya telah mencapai sedikitnya 30.000 orang. Jika perang berkecamuk di Suriah, Bashar –yang jelas menyadari konsekuensi dari kegagalan– boleh jadi akan mengambil pelajaran dari apa yang dialami Gaddafi dan berusaha dengan segala cara untuk memerangi oposisi. Pola berfikir semacam itu sangat mungkin akan mengakibatkan jumlah korban jiwa dan cedera yang lebih banyak dalam perang Suriah.

Suriah juga diperkirakan memiliki militer yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan Libya. Militer Suriah adalah yang paling tangguh di dunia Arab. Jika Bashar bertekad untuk berjuang sampai titik darah penghabisan, perang Suriah diperkirakan akan lebih mengerikan dibandingkan dengan perang di Libya; dengan korban jiwa yang lebih banyak dan waktu yang lebih lama.

Yang tragis dengan situasi di Suriah ialah pentingnya campur-tangan di Suriah bukan semata-mata dilandasi oleh keinginan untuk membantu rakyat. Keluhan rakyat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk mempersenjatai mereka, membuat mereka terbunuh, dan menciptakan kondisi mengenai perlunya campur-tangan, padahal itu akan mendongkrak kepentingan Israel.

Pada saat yang sama, Bashar mungkin saja akan melakukan tindakan untuk menyerang Israel. Menurut laporan yang disiarkan oleh Jerusalem Post, yang berpusat di Israel, pada Juli, dinas intelijen Israel memiliki keterangan militer Suriah akan melakukan gerakan militer yang tak biasa di daerah perbatasan.

Militer Suriah diperkirakan akan menembakkan rudal balistik jarak jauh ke Israel. Menurut Tel Aviv, Suriah mungkin berusaha menarik perhatian di dalam negeri dan internasional dengan mengobarkan perang dengan Israel.

Oleh sebab itu, jika negara Barat menyerang Suriah, Bashar mungkin bakal menembakkan rudal ke dalam wilayah Israel –yang pada gilirannya akan menjerumuskan seluruh Timur Tengah ke dalam kekacauan yang jauh lebih besar. Belum lama ini, Bashar –selama pertemuan dengan menteri luar negeri Turki– mengatakan ia akan menghujani Israel dengan rudal jika NATO atau Amerika Serikat menyerang Damaskus.

Jika perang di Suriah terjadi, maka darah, kerusuhan dan kekacauan kembali akan menjadi kata kunci utama di Timur Tengah dan Afrika Utara. Berdasarkan kondisi saat ini, perang Suriah akan membuat negara Barat membayar sangat mahal, dan akan jadi tindakan yang tak bijaksana serta petualanan untung-untungan yang penuh resiko bagi Barat untuk melancarkan perang di Suriah.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: