Chaidarabdullah’s Weblog

MAMPUKAH KONFERENSI INTERNASIONAL SELESAIKAN KEMELUT DI AFGHANISTAN? Oleh Chaidar Abdullah

Posted on: Desember 5, 2011

Negara itu telah puluhan tahun menyaksikan pertempuran; mulai dari melawan Tentara Merahnya bekas Uni Sovyet, perang saudara antar-faksi Mujahidin, sampai pada serangan AS dan sekutunya di NATO, dan kini perdamaiannya dipertaruhan lewat konferensi internasional.


Satu konferensi besar internasional dijadwalkan digelar pada Senin (5/11) di Jerman, dalam upaya merancang jalan bagi Afghanistan setelah tentara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ditarik dari negara yang diporak-porandakan pertempuran tersebut pada 2014.

Tapi boikot oleh Pakistan telah menjadi pukulan keras terhadap harapan bagi dirancangnya peta jalan perdamaian di negara yang pernah menampung pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden.

Empat hari sebelum pertemuan dimulai Islamabad, yang kesal akibat serangan NATO yang menewaskan 24 prajuritnya pada Sabtu (26/11), mengancam takkan hadir.

Pemerintah Pakistan menyatakan Islamabad akan memboikot konferensi internasional mengenai Afghanistan, Senin, sehingga membuat keruh harapan untuk bisa menstabilkan Afghanistan.

Pertemuan itu dijadwalkan dihadiri 100 delegasi di Bonn, Jerman.

Jika Pakistan berpegang pada keputusan untuk menolak hadir, tindakan tersebut dipandang sebagai kemunduran bagi konferensi itu, begitu pernyataan Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle setelah Islamabad menarik diri.

Seorang diplomat senior Barat bahkan menyebutnya “pukulan yang sangat keras”, terhadap pertemuan yang direncanakan diselenggarakan tepat 10 tahun setelah pertemuan penting serupa di kota yang sama guna mendirikan pemerintah sementara Afghanistan untuk mengganti rejim terguling Taliban.

Dan kini konferensi tersebut dikhawatirkan menjadi “dagelan”.
Seluruh keterlibatan masa depan oleh masyarakat internasional dilandasi atas harapan bahwa proses perdamaian antara pemerintah dan Afghanistan dan faksi santri Taliban akan bergulir. Dan … Pakistan menjadi pemain penting dalam proses itu, demikian komentar harian Jerman Diet Welt, yang dikutip AFP, Jumat (2/12).

Konferensi Bonn “akan berubah jadi dagelan”, tulis Financial Times Deutschland.

Media itu berpendapat jika boikot oleh Pakistan berlanjut, “maka konferensi tersebut benar-benar takkan berarti apa-apa dalam banyak masalah”.

Pertemuan Bonn 2011 dikhawatirkan memiliki nasib seperti konferensi lain yang tak membawa manfaat bagi Afghanistan.

Sementara itu para pejabat Jerman diberitakan masih berharap Islamabad akan mengirim wakil pada suatu tingkat jabatan, jika bukan mengirim Menteri Luar Negeri Hina Rabbani Khar.

Pakistan dipandang penting bagi prospek kestabilan di Afghanistan –yang terus-menerus dirongrong pertempuran setelah pasukan pimpinan AS menggulingkan Taliban, yang menjatuhkan pemerintah Mujahidin dan menampung pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden.

Pakistan dan Barat memiliki perspektif yang berbeda mengenai masa depan politik Afghanistan.

Pengulas politik di German Institute for International and Security Affairs, Christian Wagner, mengatakan meskipun Pakistan memandang Taliban sebagai “benteng” yang potensial guna menanggulangi pengaruh India dan nasionalisme Pashtun di Afghanistan, “masyarakat internasional berpegang pada prospek tatanan demokrasi”.

Peralihan menuju kedaulatan Afghanistan, upaya yang macet guna rujuk dengan Taliban dan keterlibatan internasional setelah 2014 diberitakan menempati posisi utama dalam agenda konferensi tersebut.

Daftar tamu dilaporkan meliputi Presiden Afghanistan Hamid Karzai, Menteri Luar Negeri Zalmai Rassoul, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton.

Pasukan tempur pimpinan NATO dijadwalkan keluar dari Afghanistan paling lambat pada penghujung 2014, ketika pemerintah Afghanistan direncanakan mengambil-alih tanggung jawab bagi keamanan.

Saat ini terdapat 140.000 prajurit internasional di negeri tersebut, kebanyakan dari Amerika Serikat, lalu diikuti oleh Inggris dan Jerman.

Militer AS

Amerika Serikat telah terlibat aktif secara militer di Afghanistan sejak 2001, ketika Washington memimpin agresi setelah serangan 11 September oleh Al-Qaeda di Amerika Serikat. Kelompok tersebut telah mendapat tempat perlindungan di Afghanistan dari Taliban, kelompok yang kelahirannya ikut dibidani oleh Amerika Serikat dan belakangan dijadikan momok oleh negara Adidaya itu. Taliban mengambil-alih kendali pada 1996, setelah bertahun-tahun perang saudara.

Serbuan 2001 mampu menggusur Al-Qaeda dan menggulingkan Taliban dari tampuk kekuasaan, tapi tak berhasil mengikis habis salah satu dari kedua kelompok gerilyawan tangguh tersebut. Sementara upaya militer Amerika beralih ke Irak pada 2003, Taliban –yang bersama Al-Qaeda berlindung di Pakistan– secara bertahap tapi pasti kembali muncul di Afghanistan. Kemunculan kembali faksi santri itu, sebagian, dipicu oleh ketidak-puasan di kalangan warga karena pemerintah Afghanistan lemah dan dilanda korupsi.

Presiden AS Barack Obama membuat Afghanistan menjadi pusat militer pemerintahnya; ia menarik tentara ke luar Irak dan menambah jumlah prajurit di Afghanistan hampir 50.000 personel. Ia menempatkan Jenderal David H. Petreaus, arsitek “penambahan” tentara 2007 di Irak, sebagai pemegang komando pasukan Amerika di Afghanistan. Langkah operasi tentara Amerika pun meningkat tajam, mula-mula di kubu Taliban di Afghanistan selatan.

Meskipun rencana awal menyerukan penarikan pasukan tempur Amerika dari Afghanistan dimulai pada musim panas 2011, pemerintah Obama semakin menekankan pendapat bahwa Amerika Serikat akan menempatkan pasukan di negeri itu sampai setidaknya akhir 2014. Washington berencana menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada pemerintah Afghanistan.

Namun antara pernyataan mengenai keberhasil taktis di lapangan dan strategi penyerahan kepada pasukan Afghanistan terdapat apa yang dikatakan seorang perwira militer sebagai “kondisi tak nyambung yang besar”.
Taliban dan kelompok yang memiliki hubungan erat dengannya masih memiliki pijakan yang sangat kuat; polisi dan militer Afghanistan tetap kekurangan energi dan tak mampu menanggulangi penyalah-gunaan obat-obatan; perbatasan negeri tersebut tetap keropos; Bank Kabul, yang memproses gaji pegawai pemerintah, dirongorng kecurangan, dan pemerintah Karzai, dipandang dari sudut mana pun, dianggap tetap lemah dan tak terpimpin baik.

Sementara itu perbatasan Pakistan tetap menjadi tempat berlindung bagi Taliban.

Taliban juga telah menemukan cara baru yang lebih canggih dalam menampilkan diri, dengan menggunakan taktik seperti mengendalikan penggunaan telefon genggam. Taliban juga melancarkan serangan yang lebih selektif dan lebih luwes dalam banyak masalah seperti pendidikan, bahkan saat para jenderal NATO memandang gerilyawan tersebut sebagai kekuatan yang kekuatannya berkurang dan tak mampu mempertahankan wilayah.

Para pejabat Amerika menunjukkan kecenderungan faksi tersebut untuk melancarkan serangan yang menarik perhatian besar guna mengimbangi kemerosotan dalam kemampuan mereka secara keseluruhan untuk menyerang pasukan koalisi di lapangan.

Pertanyaannya ialah apakah Taliban perlu menguasai wilayah seperti yang pernah mereka lakukan pada masa lalu guna mempengaruhi penduduk? Jawabannya tampaknya adalah “tidak”.
Satu laporan yang dikeluarkan oleh PBB pada Oktober 2011 memberi gambaran yang berisi noda mengenai pelecehan tahanan oleh tentara pemerintah Afghanistan saat pasukan asing pimpinan Amerika di negeri itu bermaksud mengurangi kehadiran mereka setelah satu dasawarsa terlibat perang di Afghanistan. Pelecehan tersebut terungkap bahkan saat para pelatih militer Amerika dan Barat telah bekerja-sama secara erat dengan kementerian yang mengawasi instalasi tahanan dan mendanai operasi mereka.

Secara ekonomis, laporan yang dikeluarkan pada November 2011 oleh Bank Dunia meramalkan Afghanistan akan menderita resesi pada 2014, setelah tentara asing pergi dan bantuan berkurang. Jika situasi keamanan bertambah parah, negeri tersebut dikhawatirkan menghadapi keambrukan ekonomi total.

Ketergantungan negara itu pada bantuan; lebih dari 90 persen dari 17,1 miliar dolar anggaran nasionalnya berasal dari bantuan asing, sehingga negara tersebut bersama Jalur Gaza, Tepi Barat Sungai Jordan dan Liberia berada di dalam satu kelompok sebagai tempat yang paling mengandalkan bantuan asing di dunia, kata Bank Dunia.
Laporan Bank Dunia itu mengumandangkan laporan pada Juni 2011 oleh Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, yang mempertanyakan asumsi bahwa bantuan yang berlimpah dan penghasilan yang lebih tinggi bagi warga lokal Afghanistan akan meningkatkan keamanan, bagian utama strategi kontra-perlawanan oleh Amerika Serikat. Kedua laporan tersebut mencuatkan kemungkinan bahwa uang bantuan cuma menimbulkan sedikit sentakan ekonomi yang berlangsung untuk sementara.

Secara resmi negara itu bernama Republik Islam Afghanistan dan tak pernah menikmati perdamaian sejak 1979, ketika bekas Uni Sovyet melancarkan serbuan. Sekarang, negara tersebut menjadi pusat ajang pergolakan militer bagi Amerika Serikat, saat pasukan AS berusaha membantu pemerintah yang lemah memadamkan perlawanan yang gigih.

Lokasi Afghanistan yang strategis, di persimpangan Asia Tengah, sub-benua India dan Timur Tengah, telah lama membuatnya memainkan peran penting di wilayah itu. Wilayahnya, yang terjal, dan penduduknya telah berabad-abad menghalangi kaum pendatang yang ingin menaklukkannya. Negara dengan Kabul sebagai ibu kota tersebut memiliki sebanyak 34 juta warga.

Penghalang bagi perdamaian dan pembangunan dipandang sangat besar. PBB menyatakan jumlah korban di pihak sipil naik 15 persen pada semester pertama 2011 jadi 1.462 sementara militer setempat –yang memerlukan biaya lebih dari 11 miliar dolar pada tahun ini saja, masihg mengahdapi masalah besar termasuk buta huruf dan keprihatinan mengenai hak asasi manusia.

Sementara itu pemerintah pusat pimpinan Karzai dipandang lemah dan korup dan situasi keamanan yang berbahaya, termasuk perdagangan narkotika, telah merusak upaya untuk mengeksploitasi sumber daya mineral yang berlimpah dan membebaskan negeri tersebut dari bantuan asing.

Para pejabat Jerman telah menyatakan konferensi itu akan bertujuan meredakan kekhawatiran bahwa masyarakat internasional akan berpaling dari Afghanistan saat negara tersebut sementara terjadi kemerosotan ekonomi global.

Para peserta pertemuan dijawalkan menyusun dokumen akhir yang menjabarkan prinsip-prinsip bagi komitmen internasional buat negara itu, sementara wakil dari masyarakat sipil akan mengajukan permohonan atas nama rakyat Afghanistan.

Namun pemrotes telah berjanji akan menggelar aksi di luar gedung pertemuan dan mengatakan serangan NATO hanya mempertegas bencana yang telah diciptakan militer Barat di wilayah tersebut dalam 10 tahun belakangan.

Perkembangan

Pada Juni 2011, Presiden AS Barack Obama mengumumkan Amerika Serikat telah mencapai sebagian besar sasarannya di Afghanistan, dan menetapkan jadwal agresif bagi penarikan tentara AS paling lambat pada 2014.

Namun reaksi di lapangan beragam dan rumit. Mulanya, banyak orang di Kabul dilaporkan menyambuat baik pengumuman tersebut, termasuk Presiden Hamid Karzai –yang menggambarkan pengumumkan bahwa tentara Amerika akan pergi sebagai “saat kebahagiaan bagi Afghanistan”.

Saat waktu berlalu dan Taliban melanjut aksi beraninya, semangat yang ada berubah dingin. Di seluruh Afghanistan, dan terutama di wilayah selatan, pejabat lokal dan tetua suku diberitakan telah mempertanyakan kemampuan tentara Afghanistan untuk membela mereka dan telah mengatakan Taliban jauh dari kalah.

Pada November 2011, Karzai menyerukan pertemuan Loya Jirga, dewan agung tradisional yang terdiri atas para tetua dan pemimpin Afghanistan, dalam upaya meraih dukungan rakyat bagi kehadiran lama militer AS di Afghanistan. Lebih dari 2.000 peserta mendukung visi strategi Karzai bagi kehadiran tentara Amerika. namun persyaratan yang ia usulkan, termasuk diakhirinya penggeledahan dari rumah-ke-rumah dan serangan pada malam hari oleh pasukan Amerika dan desakan bahwa pemerintah Afghanistan menangani semua tahanan, tampaknya tak bisa diterima oleh para pejabat Amerika.

Masalah kedua yang dibahas oleh Loya Jirga, cara memulai kembali pembicaraan perdamaian dengan Taliban, tak terselesaikan.

Tiga dasawarsa lalu, Afghanistan adalah negara yang stabil, relatif makmur dan sekuler. Kerusuhan dan fanatisme yang telah mendominasi sejarahnya sejak itu berawal pada serbuan Uni Sovyet 1979 dan reaksi dari rakyat Afghanistan serta sekutu mereka –Amerika Serikat dan Pakistan.

Kini, setelah Tentara Merah ditarik, Osama bin Laden terusir dari sana dan bahkan dibunuh oleh Amerika Serikat di Abbottabad, Pakistan, dan Taliban tak mengendalikan pemerintah, perdamaian tak kunjung datang sementara aksi perlawanan tak pernah padam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: