Chaidarabdullah’s Weblog

PAKISTAN DITEKAN AS, DISERANG NATO Oleh Chaidar Abdullah

Posted on: Desember 5, 2011

Mereka memiliki “kepentingan strategis bersama”, tapi kedua negara berbeda wilayah itu menjalin hubungan tak mulus dalam “perang melawan teror”, dan hubungan Pakistan-AS menghadapi jalan yang kian berduri belakangan ini.


Hubungan kedua negara tersebut bergejolak ketika pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden dibunuh pasukan elit AS di Abbottabad, Pakistan, awal Mei, tanpa koordinasi dengan pasukan keamanan Pakistan.

Lalu muncul kemelut mengenai jaringan gerilyawan Haqqani di Afghanistan, yang diduga berkubu di Waziristan Selatan. Paling akhir NATO “menyiram minyak” ke dalam api tatkala aliansi Barat itu pada Sabtu (26/11) melancarkan serangan lintasperbatasan sehingga menewaskan 24 prajurit Pakistan.

Akibat serangan itu, pada Senin (28/11) Perdana Menteri Pakistan Yusuf Raza Gilani mengesampingkan “bisnis seperti biasa” dengan Amerika Serikat, sementara militer negeri tersebut mengancam akan membatasi kerja sama sehubungan dengan perang di Afghanistan.

Peristiwa akhir pekan di perbatasan Pakistan dengan Afghanistan telah menambah rumit upaya AS untuk meredakan krisis dalam hubungan dengan Islamabad dan menstabilkan wilayah itu sebelum pasukan tempur asing meninggalkan Afghanistan.

Meskipun serangan NATO telah mengalihkan perhatian dari apa yang dikatakan pengeritik sebagai “kegagalan Islamabad untuk memburu gerilyawan garis keras”, komentar Gilani mencerminkan kemarahan militer dan pemerintah Pakistan, dan tekanan yang mereka hadapi dari rakyat mereka sendiri.

Menurut Gilani, orang tak bisa menang dalam perang tanpa dukungan rakyat.

Hubungan dengan AS, kata Gilani sebagaimana dikutip media internasional, hanya akan berlanjut kalau dilandasi oleh “kepentingan bersama dan saling menghormati”. Komentar perdana menteri Pakistan itu menjadi puncak tekanan dari militer Pakistan –yang sudah mengancam akan mengurangi kerja sama dalam upaya perdamaian di Afghanistan.

Pakistan disebut-sebut “memiliki sejarah hubungan panjang” dengan kelompok gerilyawan di Afghanistan, jadi negara itu memiliki posisi unik dalam upaya untuk mewujudkan penyelesaian perdamaian, kebijakan utama luar negeri dan sasaran keamanan bagi pemerintah Obama.

Washington percaya Islamabad dapat memainkan peran penting dalam upaya meredam Afghanistan sebelum semua tentara tempur NATO ditarik pada 2014 dan AS tak bisa membiarkan sekutunya menjauhkan diri.

Meskipun begitu, seorang politikus Republik di Komite Layanan Angkatan Bersenjata Senat, Ahad (27/11), menyatakan AS mesti “mempertimbangkan aksi militer terhadap Pakistan, jika Islamabad terus “mendukung serangan teror” terhadap tentara Amerika di Afghanistan”.

Politikus AS tersebut –Senator Lindsey Graham– mengatakan kepada “Fox News Sunday”, bahwa negara berdaulat Pakistan “terlibat dalam aksi bermusuhan terhadap Amerika Serikat dan sekutu mereka di Afghanistan dan itu harus dihentikan”.

Loh, kok Pakistan yang dikatakan “melakukan aksi bermusuhan dengan AS”? Selama ini justru Amerika Serikat lah yang mengacak-acak negara Asia Selatan itu; Serangan pesawat tanpa awak ke Waziristan Selatan sudah jadi praktek umum, pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden dibunuh pada Mei di wilayah Pakistan tanpa koordinasi dengan tuan rumah, dan kelompok Haqqani — yang juga lahir lewat tangan Amerika Serikat– kini “bermukim” dan menjadi masalah di Pakistan.

Tapi Lindsey Graham berpendapat jika AS mau “mengendalikan reaksinya”, ia “yakin akan ada dukungan kuat di Kongres untuk itu”.

Ketegangan Hubungan
Dalam membina hubungan antarnegara ada hukum yang dikatakan, “Di dunia tidak ada yang abadi, yang abadi adalah kepentingan nasional sebuah negara.” Kalimat itu mengandung arti, “satu negara tak perlu terlalu bersandar dan percaya pada negara lain, karena masing-masing akan berpegang pada kepentingannya. Begitu kepentingannya berbeda, keduanya bisa berseteru, bahkan bisa menjadi musuh”.

Itu lah yang kini tampaknya terjadi kini Amerika Serikat dan Pakistan. Hubungan yang begitu “mesra” dalam menangani ancaman teror Al-Qaeda mulai terganggu sejak dilancarkannya operasi penyergapan terhadap Osama bin Laden oleh personel Navy SEAL AS pada Mei 2011 di kota garnisun Abbottabat, Pakistan.

Operasi yang dikendalikan oleh CIA tersebut adalah operasi yang berdiri sendiri, tanpa melibatkan dinas intelijen Pakistan, ISI (Inter Services Intelligence).

ISI adalah badan intelijen utama militer Pakistan yang bertanggung jawab mengkoordinasikan dan mengoperasikan kegiatan spionase ketiga Angkatan Bersenjata dalam memberikan penilaian keamanan nasional kepada pemerintahnya.

Pakistan tentu saja merasa tersinggung karena tidak dilibatkan dan bahkan tidak diberi tahu mengenai pelaksanaan operasi gelap CIA itu. Bagi CIA, operasi penyergapan tersebut “merupakan pertaruhan pemerintah AS dalam mengejar Osama sejak terjadinya pemboman di AS 2001”.

AS lagi-lagi dinilai menyinggung Pakistan, tatkala Kepala Staf Gabungan AS Laksamana Mike Mullen belum lama ini mengatakan ISI “telah memberikan dukungan kepada kelompok yang melakukan serangan terhadap sasaran AS di Kabul”, jaringan Haqqani.

Kelompok Haqqani telah menyerang Kedutaan Besar AS di Kabul,  Afghanistan pada 13-14 September. Aksi 20 jam oleh para penyerang itu dilakukan oleh 11 orang lewat serangan dari gedung 12 tingkat di depan Kedubes AS. Mereka menyerang bagian dalam kedubes tersebut dengan enam tembakan roket.

Penyerang juga telah membunuh 16 warga Afghanistan, lima polisi dan 11 warga sipil, sebagian besar anak-anak. Tidak ada staf Kedutaan AS atau NATO yang terluka.

Semua penyerang termasuk empat pembom bunuh diri tewas stelah diserbu pasukan Afghanistan dan Barat.

Taliban memang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, tapi pejabat intelijen AS mengatakan “sangat mungkin jaringan Haqqani lah yang melakukannya”.

Jaringan Haqqani kini dinilai sebagai salah satu ancaman terbesar terhadap kestabilan Afghanistan. Haqqani diketahui bermarkas di daerah yang tanpa hukum di perbatasan Pakistan.

AS menyatakan bahwa semua serangan Taliban dilakukan oleh anggota Haqqani, termasuk serangan bom truk di Provinsi Wardak, sehingga melukai 77 anggota militer AS.

Jaringan Haqqani beraksi sebagai perpanjangan tangan badan intelijen Pakistan, kata Mike Mullen di hadapan sebuah panel Senat sebagaimana dilaporkan.

Pernyataan Laksamana Mike Mullen itu ditanggapi oleh Menteri Luar negeri Pakistan, Hina Rabbani Khar –yang mengatakan pernyataan tersebut akan membahayakan hubungan dengan Pakistan dan akan ada risikonya dengan tebusan tersendiri.

“Apa pun yang  dikatakan oleh sekutu kepada publik, tentang tuduhan itu, tujuannya ialah untuk mempermalukan dan tidak dapat diterima,” tegas Khar.

Peluang
Belum lagi kemelut itu reda, Pakistan kembali dibuat berang oleh serangan NATO terhadap pos terdepan militernya di dekat perbatasan dengan Afghanistan.

Peristiwa tersebut, yang menurut NATO dan AS, tentu saja “tak disengaja” memberi militer Pakistan kesempatan langka untuk menekan tetangganya, Afghanistan.

Serangan NATO itu dipandang sebagai provokasi paling akhir oleh Amerika Serikat, yang sudah membuat geram dan malu militer Pakistan melalui aksi militer pada Mei terhadap Osama bin Laden.

Keadaan yang dipicu oleh serangan itu diperkirakan membuat Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Ashfaq Pervez Kayani dan pemerintah sipil “bermain keras” terhadap Amerika Serikat.

Militer Pakistan jelas sangat marah dengan peristiwa tersebut dan pemimpinnya menghadapi tekanan dari perwira menengah serta junior untuk bereaksi.

Tekanan itu bisa membuat militer meregangkan ototnya dalam tindakan diplomatik sementara Washington berencana menarik pasukan tempurnya dari Afghanistan pada 2014.

Pada Senin (28/11) juru bicara militer Pakistan diberitakan mengancam akan mengurangi secara drastis kerja sama dalam upaya perdamaian di Afghanistan. Kondisi tersebut bisa membuat rumit rencana Presiden AS Barack Obama untuk mewujudkan perdamaian di negara tetangga Pakistan itu.

Pakistan diduga bisa memanfaatkan peristiwa tersebut untuk memperoleh peran lebih besar dalam penyelesaian politik guna mengakhiri perang di Afghanistan.

Islamabad telah menunjukkan bahwa Pakistan “tak boleh dipandang ringan” dengan menutup saluran pasokan buat NATO di Afghanistan, sehingga puluhan truk logistik buat aliansi Barat itu tertahan di wilayah Pakistan.

Selain “menyiram bensin ke api”, aksi blunder NATO tersebut juga mengalihkan perhatian dari apa yang dikatakan pengeritik Pakistan sebagai “kegagalan Pakistan untuk memburu gerilyawan garis keras”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: